03
Dec
10

Pindah Tugas…BENGKULU…Kota Rafflesia!

Yah…..memang benar adanya….pindah juga akhirnya dari Jawa ke Sumatra…tepatnya di Bengkulu…setelah beberapa bulan lamanya kurang lebih 8 bulan berjuang menjalani OJT alias Magang. Gak terasa memang, kayak baru kemarin aja daftar, tes untuk pekerjaan baru n akhirnya magang, dan akhirnya penempatan, gak tanggung-tanggung,  dapat penempatan di Lebong…hehe, pasti banyak yang gak tahu kan Lebong tuh mana….mungkin pembukanya segitu aja dulu…cerita lanjut postingan berikutnya…

13
Jul
09

TVS COMMUNITY SALATIGA…Baru Saja Diresmikan..

TVS Community Salatiga

TVS Community Salatiga

Hari Minggu (12/07/09) telah diresmikan perkumpulan atau klub motor untuk merk TVS di Salatiga dengan nama TVS Community Salatiga (TCS). Peresmian diadakan di Ketep Pass dan diikuti oleh 16 motor TVS terdiri dari 13 motor jenis NEO dan 3 motor jenis APACHE.

Acara peresmian diawali dengan kumpul di dealer TVS Salatiga jam 9 pagi dan dilanjutkan dengan Touring Wisata dengan route Salatiga-Boyolali-Selo-Ketep-Kopeng-Salatiga. Saat di Ketep itulah peresmian TCS dilakukan.

TCS didirikan atas dasar keinginan para anggotanya untuk membentuk suatu wadah sebagai tempat silaturahmi dan bertukar pikiran mengenai sepeda motor tercintanya serta wadah untuk menyalurkan hobi berkendara.

Semoga dengan berdirinya TCS bisa meramaikan keberadaaan klub-klub motor di Salatiga dan dapat menjalin hubungan persaudaraan dengan klub motor lain pada umumnya dan klub motor TVS daerah lain pada khususnya.

Barisan TCS di Ketep

Barisan TCS di Ketep

briefing sebelum berangkat

briefing sebelum berangkat

TCS RIDERS

TCS RIDERS

28
Jun
09

ARMADA band…reformasi KERTAS…

Berawal dari ketidaksengajaan melihat performa sebuah band di acara musik live SCTV hari ini (minggu, 28 Juni 2009) dan setelah diperhatikan dengan seksama..vokal dari lagu yang dinyanyikan seperti tidak asing terdengar di telinga…seperti…mm..seperti band KERTAS! Ya…band yang dulu pernah menjadi band Favoritku namun sayang penampilan di TV dan media tidak seheboh band-band baru lainnya yang aku rasa sedikit / bahkan lebih jelek dari band KERTAS dilihat dari lagu-lagu ciptaan dan performa musiknya…ini lah yang mengundang penasaranku untuk mengetahui apa bener ini band KERTAS…ternyata gak ada nama KERTAS di layar…yang ada yaitu ARMADA dengan lagunya BUKA HATIMU…

terbersit pertanyaan…apa ganti nama ya? kok tau-tau dah jadi ARMADA aja….mmm..akhirnya browsing deh n ketemu ni berita….simak ya…(berita lama sih…)

ARMADA Band: Nyaris Dijatuhkan ‘Kekejaman’ Industri Musik
Oleh : Djoko Moernantyo

14-Feb-2008, 23:58:16 WIB – [http://www.kabarindonesia.com]

//
KabarIndonesia – DARI RATUSAN, bahkan mungkin ribuan band yang lahir dalam rentang waktu setahun, nama KERTAS Band sebenarnya termasuk yang cukup menggeliat. Artinya, lagunya ada yang menyelip diantara riuhnya lagu-lagu band lain yang nyaris seragam. Lagu dan album bertitel ‘Kekasih Yang Tak Dianggap’ yang dirilis 2 Desember 2006 silam, membuat band ini ‘mendadak nge top’ di blantika musik Indonesia.

Meski sebenarnya persoalan “ngetop” ini bukan hal baru, minimal di level regional Sumatera, dimana band ini lahir dan bertumbuh. KERTAS Band adalah salah satu band indie-pop yang cukup terkenal di Palembang dan sekitarnya. Dari awal personilnya adalah Rizal [vokal], Radha [gitar], Andit [drum], Endra [bas] dan Argha [gitar]. Secara resmi, mereka yang awalnya personil dari band yang berbeda-beda memproklamirkan KERTAS Band, Mei 2005.

Meski baru, naman KERTAS Band kemudian melejit menjadi salah satu band yang cepat diperhitungkan di Palembang. Beberapa festival coba mereka ikuti dan hasilnya tidak mengecewakan juga. Salah satunya, Rizal pernah menyabet The Best Vocalist Festival Cyberb Tech Universitas Bina Dharma 2004 dan juga jadi finalis 3 Besar Dream Band 2005 untuk Daerah Jakarta dan Bandung.

Iseng-iseng kemudian mereka merekam album indie limited-edition. “Sebenarnya bukan album, karena kami hanya mengirim ke radio supaya ada yang mendengar lagi kita saja awalnya,” jelas Rizal, ketika menyambangi penulis, beberapa waktu lalu. Nggak disangka, responnya bagus. Tambah nggak disangka lagi, kemudian lagu-lagu mereka masuk dalam “kompilasi-bajakan” tanpa pernah mereka tahu kapan direkam dan diedarkannya. “Kita kaget waktu masuk ke toko kaset, kok ada lagu kita tapi dalam bentuk kompilasi,” imbuh Rizal lagi.

Jam manggung dan undangan pentas, menjadi santapan mereka kemudian. Sampai suatu ketika, saat mereka manggung di salah satu daerah di Sumatera, seorang produser dari Jakarta menawari untuk rekaman album dan hijrah ke Jakarta. Tawaran yang –sayangnya– tanpa pikir panjang, langsung mereka iyakan. Label yang menyebut dirinya Jiwa Production itu kemudian merekam album, dan ‘berjanji’ mendistribusikannya. Janjinya juga adalah membantu band ini berkembang, seperti misalnya lagunya jadi soundtrack sinetron, yang sekarang lazim dilakukan band-band baru.

Euforia rekaman album, membuat KERTAS Band terlena. Kontrak album tidak dipelajari dengan seksama, termasuk soal royalti dan pembagian honor manggung. Alhasil, ketika kemudian muncul pertanyaan soal itu, label “berkilah” sudah diatur semua di kontrak. Mulailah “petaka” itu. Sekedar informasi, di album pertama sebenarnya banyak musisi senior yang membantu penggarapannya. Seperti Adith The Fly, Benny Vena, Ian Protonema, Heydie Ibrahim eks Power Slaves, DD Crow Roxx, dan Andy Juliet.

Kini, sembari menjalani proses hukum yang terjadi dengan label lamanya, anak-anak KERTAS Band mencoba “lahir” baru. Diawali dengan perubahan nama menjadi ARMADA Band. Sayangnya, karena “stress” lantaran menghadapi persoalan hukum, Argha memilih kembali ke Palembang. “Dia sedih banget, sampai akhirnya pilih balik ke Palembang,” jelas Andhit yang ikut nimbrung bicara.

Segera berbenah. ARMADA langsung masuk ke manajemen baru. Tentu belajar dari pengalaman, kini mereka lebih berhati-hati membaca kontrak dan semua perjanjian yang menyangkut nasi band ini. “Kita sadar kok, kalau dengan ini artinya kita kembali lagi ke awal atau nol lagi,” jelas Rizal pasrah.

Bicara soal album kedua, ARMADA mengaku ada beberapa perubahan yang dilakukan. “Album pertama sebenarnya kita suka, tapi album ini lebih menunjukkan siapa ARMADA sesungguhnya,” tambah Andhit. “Paling tidak, ide-ide yang tidak tersalurkan di album sebelumnya, bisa kita akomodir di album ini,” sambung Rizal. Kemudian kalau album pertama ada tiga lagu ciptaan orang lain, termasuk single jagoan, untuk album kedua ini semua lagu dan aransemen adalah ciptaan ARMADA. “Album ini juga lebih nge-rock!” tegas Endra nyamber.

Ciri melayu yang melekat pada vokal Rizal, juga masih kentara di album kedua. “Melayu dalam konsep kita memang lebih merujuk pada warna vokal sih,” jelas Rizal, yang karakternya memang kental dengan ornamen melayu. Padahal ketika masih ngeband sendiri, mereka kerap memainkan komposisi rock ala Mr BIG atau Dream Theater.

Kasus dengan label lama, ternyata cukup berpengaruh kepada personil ARMADA. “Secara musikalitas sebenarnya tidak ada, tapi secara lirik dan cara menyanyi, bisa dibilang lebih cowok dan lebih lugas,” ujar Rizal yang menolak itu disebut bagian dari “sakit hatinya” kepada label sebelumnya.

Perubahan nama juga menjadi pertimbangan mereka kepada fans. “Kita tahu, mungkin orang akan anggap kita ini band baru, tapi nggak apa-apa karena kita siap dengan konsekuensi itu kok,” terang pemilik nama lengkap Tsandy Rizal Adi Pradana ini kalem.

Euforia punya album, usai susah. Kini ARMADA mulai menapak dengan ‘kapal yang baru’ dan tentu saja dengan nakhoda baru juga. “Kami sih berharap kami berada di kapal yang benar sekarang,” ujar Radha yang “akhirnya” ngomong juga. “Manajemen hanya memberi masukkan, mana yang bisa diterima pasar, mana yang tidak kok,” jelas Andreas Wullur, manajernya, yang ikut nimbrung bicara.

Sedikit menyinggung soal kasus hukum yang sedang dihadapinya, ARMADA bertutur, dalam kontrak sebenarnya ada promo dan kontribusi yang harus mereka terima. “Tapi dari awal, kita malah nggak dapat apa-apa dan nggak tahu apa-apa soal apa-apa yang kita terima,” kata Endra Prayoga, basis kelahiran Palembang 29 November 1983.

Contoh kasus, ada sinetron yang menggunakan lagu mereka ketika KERTAS Band, tapi mereka sendiri malah kaget karena tidak tahu. Kasus hukumnya pun bergulir sejak Oktober 2007 silam. “Sampai saat ini kita bolak-balik ke pengadilan,’ aku Radha. Tuntutan label nggak main-main, mereka meminta KERTAS Band [ketika kasus bergulir, mereka masih menggunakan nama lama –red] Rp 1,3 milyar dengan anggapan mereka sudah lalai dan akan merugi jika perjanjian batal.

Malah, lantaran kasihan dengan band asal Palembang ini, seorang pengacara bernama Adnan Assegaf, akhirnya menawarkan diri membantu tanpa minta bayaran sepeserpun. “Kita disupport banyak pihak sih,” imbuh Rizal.

Kasus boleh berjalan, personil ARMADA yang buta hukum pun bisa saja deg-degan dengan tuntutan label lamanya. Tapi yang namanya berkarya, toh tak bisa dihambat. Kini materi barunya sudah siap dengan label dan manajemen baru. “Kita menjagokan lagu “Gagal Bercinta” sebagai single pertama,” jelas Rizal.

ARMADA mungkin bukan band pertama dari daerah yang “dikecewakan” oleh insan-insan yang “mengaku” tahu industri musik Indonesia. Istilahnya, mereka jadi “tumbal” band Palembang untuk menembus industri. Kalau sampai kini mereka tetap berdiri tegak, meski dengan segala keterbatasannya, rasanya itu sudah bisa kita acungi jempol.

hmmm…kasian juga ya…nasib mereka kurang beruntung….

kalo mo cari lagu2 mereka searching aja lewat mbah google…ok…lebih disarankan beli kaset n CD nya….

20
Jun
09

Skutik Sachs GTR 150 dengan tampilan sporty

JAKARTA – Setelah dinanti-nantikan, akhirnya Jumat malam (19/6/2009) PT Minerva Motor Indonesia (MMI) resmi meluncurkan skuter matik (skutik) mereka. Motor ini diberi nama Minerva Sachs GTR 150.

sachs gtr 150 mejeng di PRJ 2009

sachs gtr 150 mejeng di PRJ 2009

Berbeda dengan skutik yang telah beredar lebh dulu, Minerva mengandalkan desain sporty dan kapasitas mesin 150 cc. Dengan kapasitas ini berarti merupakan yang terbesar dikelasnya.

Karena itulah mereka menyebutnya sebagai skutik sport. “Motor ini bukan sekedar skutik biasa, tapi skutik sport,” tegas President Director MMI Kristianto Goenadi dalam sambutannya di acara peluncuran Skutik GTR 150 di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), di JIExpo Kemayoran.

Selain kapasitas mesin yang besar serta desain yang sporty, skutik sport ini juga telah menggunakan pelek berukuran 17 inci di depan dan 16 inci di belakang. Penggunaan dimensi pelek besar ini jauh berbeda dengan skutik kebanyakan, sehingga membuatnya diklaim lebih memlikiki handling yang mantap dan sesuai dengan kondisi jalan di Indonesia yang tidak selamanya rata.

Dengan seluruh trobosan teknologi yang diterapkan pada Minerva Sachs GTR 150, membuat MMI selaku pemegeng merek motor Minerva terpaksa membanderol harga skutik sport tersebut sedikit lebih malah dari skutik yang ada. GTR 150 dilepas dengan harga Rp17,6 juta on the road Jakarta. (ton)

dikutip dari okezone.com oleh Prasetyo Adhi

Skutik juga mulai ke sporty nih..pilihan baru buat kita yang maniak skutik…

15
Jun
09

Akhirnya Nonton Film Ketika Cinta Bertasbih..

Gembar-gembor film terbaru yang muncul di Indonesia yang juga diangkat dari novelnya Kang Abik (Habiburahman El-Shirazy) beberapa waktu lalu yaitu Ketika Cinta Bertasbih telah membuat hati penasaran dan gak sabar untuk menontonnya di awal-awal pemutarannya..dan rasa penasaran itu telah terjawab pada Minggu, 14 Juni 2009 kemarin di Grand 21 Solo Grand Mall. Akhirnya nonton juga….

kcb_movieKapanlagi.com (11 Juni 2009) – Pemutaran perdana film KETIKA CINTA BERTASBIH atau KCB di beberapa bioskop kota-kota besar diserbu warga yang ingin menonton. Biaya pembuatan film KCB yang mencapai miliaran rupiah, sepertinya tidak sia-sia. Seperti yang terlihat di kota Banjarmasin dan Makassar pada pemutaran film perdana KCB, Kamis (11/6).

Film yang berasal dari novel Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan sekitar bulan Februari 2008 lalu, sudah diprediksi bakal menjadi penguasa tahun ini. Film ini merupakan film pertama yang pengambilan gambarnya langsung dari Mesir dan akan ditayangkan di delapan negara di Asia.

Film ini bercerita tentang seorang pelajar asal Indonesia bernama Azzam. Azzam adalah mahasiswa S1 Universitas Al Azhar yang selama sembilan tahun belum bisa menyelesaikan kuliahnya. Untuk bisa hidup di negeri orang, Azzam harus menyambi kerja berjualan tempe, bakso dan jadi tukang masak.

Azzam diceritakan sebagai sosok yang penuh tanggung jawab, ia menjadi tulang punggung keluarga karena sang ayah telah meninggal dunia. Karena itu, untuk bisa menghidupi ibu dan kedua adiknya di Indonesia, ia harus tetap berusaha sekeras mungkin walaupun harus mengorbankan kuliahnya sendiri.

Di Mesir ia kemudian dipertemukan dengan sejumlah sahabat, seperti: Hafez, Fadhil, Cut Mala, Sara, Furqan, yang membuatnya tetap bertahan.

KCB selain diiklankan di sejumlah televisi swasta dalam beberapa hari sebelumnya juga bertepatan dengan musim liburan anak sekolah, sehingga penonton remaja dan orang dewasa ingin menikmati kisah kehidupan mahasiswa di negeri Fir’aun, Mesir itu.

Kisah haru biru KCB yang bergaya cinta remaja Islam itu memang diharapkan dapat mengobati kerinduan masyarakat terhadap film bermutu, itu lebih baik daripada suka sama dengan film impor.

Abdul Azis, Manager Humas Sinemart, membenarkan bahwa tiket penayangan perdana film KCB terjual habis. “Alhamdulillah, iya. Tadi kami cek dari beberapa kota itu udah sold out, dari tayangan pertama sampai tayangan terakhirnya di bioskop,” kata Abdul Azis, saat dihubungi via telepon.

Sementara saat ditanya soal berapa jumlah tiket yang terjual, Abdul Azis tak bisa memberikan angka pasti hingga film KCB benar-benar telah diputar di seluruh tanah air.   (kpl/ant/bun)

Film ini cukup mendidik dan memang lebih ke religi Islam seperti novelnya, ini ditandai dengan banyaknya penggunaan atribut islam didalamnya seperti penggunaan ayat alquran dan hadis, masalah poligami juga masih diangkat dalam film ini.

Beberapa hal yang mengusik adalah film ini terasa berplot cepat dan patah-patah..yah,jika kita membaca novel kemudian menonton filmnya akan terasa seperti itu. Perasaan ini juga muncul ketika menonton film serupa sebelumnya (Ayat Ayat Cinta maupun Laskar Pelangi). Kemudian ending di akhir film yang mirip sinetron dengan dikasih tulisan to be continued serta disertai cuplikan film Ketika Cinta Bertasbih 2 terasa agak kurang pas..(ditandai dengan seruan huuu oleh penonton)..:)

Secara keseluruhan film ini layak ditonton bagi semua kalangan..dengan budget film sedemikian besar dan syuting yang dilakukan asli di mesir (hingga di webnya Ketika Cinta Bertasbih ditulis “dijamin mesir asli”).

Selamat Menonton…

Screen Shot dari film Ketika Cinta Bertasbih

ps14ps4ps5ps1ps3

04
Jun
09

PEMBERITAHUAN SERVIS VIA SMS…COOL!!

Pada tanggal 3 Juni 2009 kemarin aku mendapat sms yang isinya :

Pelanggan yth : Sepeda motor anda saatnya melakukan servis gratis ke 2. kunjungi Dealer  TVS terdekat, dengan melakukan servis secara teratur membuat performa motor anda lebih baik. TVS

Entah itu dari pusat atau inisiatif dealer lokal..hehe..ngliatnya bikin aku senyam-senyum sekaligus bangga…”mana ada sih ATPM laen yang care kayak gini..sampe servis ke 2 aja diingatkan?” hmmm…gud TVS…Tingkatkan terus pelayananmu…

04
May
09

New TVS APACHE RTR 180 cc is released!!

source from autos.maxabout.com

TVS is planning to launch new model of Apache and it is expected to be named – TVS Apache RTR 180 – it will be powered by 180cc engine which is expected to generate 17.3 Bhp of maximum power with 15.5 Nm of maximum torque.

The bike will retain the basic lines of the current RTR and will come with all the high tech features: digital speedometer with top speed, 0-60 timer, trips, and other extra functionality plus stunning looks.

Apparently, the new bike will show off its sporty looks that glide through with a powerful 180cc engine. It is also expected to feature Anti-locking Braking System (ABS).

The expected price of new TVS Apache is around Rs. 75,000 and would be able to achieve maximum speed of 135kmph. It would a light weight bike and definitely faster. The new projector headlamps, front and rear disc and wide rubber would be the new additions in the bike.

Main Features Of TVS Apache RTR 180 :

1. Digital Speedometer.
2.
Petal shaped disc brakes.
3.
Bigger RTR sticker on the tank scoops
4.
Naked chain cover.
5.
LED tail lamps.
6.
Clip on handlebar for various positions.
7.
Service and battery indicator.
8. The digital display has a feature to test the top speed achieved.
9. You can also test your 0-60km/h timing on the digital display.
10. RTR 180 logo near the clip-on’s
11. A wider rear tyre
12. New white back light for the speedometer

TV Commercial Of Apache RTR 180:




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.